Situasi Terkini Tanah Abang: yang Heboh Cuma Haji Lulung

Posted by Andrew on 2:40 PM 0 comments

Quote:Quote:[imagetag]

Quote:Sepanjang bulan Juli, kebetulan saya ke Tanah Abang tiga kali. Yang pertama sebelum puasa. Berjalan menyusuri area pasar PKL di Tanah Abang menuju gedung pertokoan, ada rasa jengkel, karena ada saja satu dua mikrolet atau motor merangsek maju di antara kerumunan orang yang sedang berbelanja. Padahal sudah penuh sesak begitu. Pedagang berteriak-teriak, pembeli berjalan hampir senggolan dengan mikrolet. Bahkan ada kambing berjalan di depan dan di kanan saya, sementara pemimpin kambingnya, yang ternyata manusia, berjalan paling depan. Ditambah lagi mikrolet dan motor ada di tengah pasar, menambah ruwet suasana.

Saat muncul berita Ahok hendak menggusur PKL Tanah Abang, barulah saya ketahui, bahwa area ini sebetulnya bukan pasar, melainkan jalan raya yang berubah fungsi menjadi pasar. Waduh. Pantas saja ada mikrolet di tengah pasar.

Soal menggusur PKL ini, tentu berdampak pada ibu-ibu, yang tahu betul, bahwa barang dagangan di PKL Tanah Abang ini sama isinya dengan barang dagangan di dalam pertokoan Tanah Abang. Juga sama dengan barang yang dijual di mal-mal yang lain. Dalam arti, sama merek, jenis dan sama kualitasnya. Beberapa pakaian sedemikian menariknya buat saya, karena sama persis dengan gaun yang saya beli di mal di bilangan kuningan, dengan harga hanya seperempatnya saja.

Berhubung Ahok hendak menggusur PKL Tanah Abang, maka saya dan teman-teman buru-buru ke Tanah Abang, padahal sudah puasa. Dibela-belain menahan haus karena takut kehilangan momen belanja murah. Suasana belanja di PKL Tanah Abang tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Paling tidak, 5 pedagang yang kami ajak mengobrol, tidak satupun yang menyatakan resah karena akan digusur Ahok. Cuma direlokasi sesudah lebaran, begitu kata mereka dengan nada santai. Tidak ada ekspresi keresahan yang ditunjukkan oleh para pedagang. Itu adalah situasi damai tenteram PKL Tanah Abang sebelum ribut-ribut antara Ahok dan Haji Lulung terjadi.

Karena barang yang saya beli kekecilan dan hendak saya tukar, maka saya kembali ke Tanah Abang. Kebetulan, mendadak hujan deras. Payung tenda PKL yang kami tuju bocor. Jadi, pedagangnya repot menyingkirkan barang dagangannya yang sudah ditutup dengan plastik. Hujan reda, sehingga kami bisa melanjutkan belanja dan mengobrol dengan pedagang. Menurut mereka, justru lebih enak kalau direlokasi, jadi tidak berjualan di jalan, yang kalau hujan maka dagangan harus dibungkus plastik semua. Karena pakaian tidak laku kalau basah, kotor terkena cipratan air, relokasi merupakan solusi yang disambut baik oleh PKL.

Situasi sebelum, selama dan pasca ribut-ribut Ahok dan Haji Lulung ternyata sama saja. Tidak ada hal baru. Sama-sama tenang. Tidak ada kisah menolak relokasi sebelumnya dan mendukung relokasi sesudahnya. PKL Tanah Abang dan ibu-ibu yang belanja di situ biasa-biasa saja. Yang heboh kelihatannya cuma Haji Lulung.

Hla, kok jadi saya yang blusukan ke Tanah Abang?


Spoiler for Sumber: